Penerjemahan Folklore dalam Wisata Kuliner Khas Keraton di Gadri Resto Yogyakarta

Ayu Ida Savitri • Setyo Prasiyono Nugroho

Unduh teks lengkap
(Bahasa Indonesia, 13 pages)

Abstrak

Istilah penerjemahan merujuk pada pengalihan pesan tertulis, sedangkan kata penerjemahan merupakan proses alih pesan (dari bahasa sumber atau Bsu ke bahasa sasaran atau BSa (Nababan, 2003:18). Dalam proses tersebut, ketakterjemahan (untransability) dapat terjadi akibat latar belakang budaya yang berbeda. Salah satu teks yang kerap mengalami ketakterjemahan adalah teks bermuatan folklore seperti legenda atau tradisi. Saat ketakterjemahan terjadi dalam penerjemahan folklore, penerjemah dapat menggunakan model penerjemahan dari Venuti (2000:427) dengan menggunakan BSuyang disertai dengan catatan tambahan (footnote) atau daftar istilah (glossary). Sementara itu, untuk menghindari pergeseran makna (meaning shift) akibat penerjemahan folklore, Vinay dan Dalbernet (1958) menggunakan dua metode penerjemahan yaitu penerjemahan langsung (direct translation) dan oblique translation serta tujuh prosedur penerjemahan, yaitu peminjaman (borrowing), Calque, penerjemahan harafiah (literal translation), transposisi(transposition), modulasi (modulation), persamaan atau reformulasi (equivalence or reformulation), dan adaptasi(adaptation). Penelitian ini mengaplikasikan metode penelitian folklore dari Dundes (2007) untuk mendeskripsiskan wisata kuliner khas Keraton Yogyakarta di Gadri Resto dari penelitian sebelumnya juga metode dan model penerjemahanVenuti (2000) serta Vinay dan Dalbernet (1958) untuk menerjemahkannya, untuk memfasilitasi wisatawan asing yang berkunjung ke resto tersebut.

Metrik

  • 85 kali dilihat
  • 63 kali diunduh

Konferensi

Seminar Nasional tentang Penerjemahan, Linguistik Terapan, Susastra, dan Ilmu Budaya 2018

  • Konferensi di Semarang, Indonesia pada tahun 2018
  • 37 artikel

Seminar Nasional tentang Penerjemahan, Linguistik Terapan, Susastra, dan Ilmu Budaya (STRUKTURAL)... tampilkan semua